Ulasan Berita

INSA DORONG PERUSAHAAN PELAYARAN TERAPKAN LAYANAN BOOKING ONLINE

Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia atau Indonesian National Shipowners' Association (INSA) mendorong perusahaan pelayaran nasional menyiapkan aplikasi layanan secara online untuk pengiriman barang ataupun petikemas. Sekretaris Umum DPP INSA Budhi Halim mengatakan INSA telah mengimbau agar perusahaan pelayaran nasional dapat meningkatkan layanannya kepada customer, yakni dengan menyediakan layanan booking online. "Apalagi saat ini era digitalisasi. Maka itu, layanan berbasis online di pelayaran itu sudah selaiknya diimplementasikan," kata Budhi kepada wartawan di Jakarta, Selasa (27/3/2018). Budhi menyampaikan hal tersebut mengapresiasi sudah adanya pelayaran nasional yang mengimplementasikan aplikasi layanan online yakni PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) dalam pengiriman petikemas. "Kami apresiasi hal itu, harapannya pelayaran nasional yang lain juga bisa menerapkan layanan online tersebut," tuturnya. Budhi menuturkan perusahaan pelayaran nasional saat ini harus lebih kreatif dalam inovasi layanannya agar bisa lebih kompetitif di tingkat global ataupun internasional. "Jangan sampai sistem berbasis online layanan pelayaran justru dikuasai pihak-pihak yang tidak ada kaitannya dengan aktivitas shipping ," ungkapnya. (Sumber: Bisnis.com)abc
Galeri, Headlines, Ulasan Berita

PERTEMUAN INSA DENGAN BONING MARINE INDONESIA

Delegasi Boning Marine Indonesia perusahaan asal Tiongkok yang bergerak di industri maritim menyambangi Kantor Sekretariat Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Jl. Tanah Abang III No. 10, Jakarta Pusat, Selasa (20/3/2018). Pertemuan ini diselenggarakan untuk memperkenalkan visi, misi dan bisnis utama Boning Marine Indonesia. Sebagai satu-satunya asosiasi perusahaan pelayaran nasional di Indonesia, INSA menjadi suatu wadah yang tepat untuk bertukar informasi mengenai industri maritim. Pada pertemuan tersebut INSA dihadiri oleh Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto, Wakil Ketua Umum I INSA Witono Suprapto, Wakil Ketua Umum II INSA Darmadi GO, Wakil Ketua Umum III INSA Darmansyah Tanamas, Wakil Ketua Umum IV INSA Soehariyo Sangat, dan jajaran pengurus lainnya serta dari DPC INSA. Sedangkan dari Boning Marine Indonesia tampak hadir Direktur Boning Marine Indonesia BoYan Xie beserta jajarannya.(*) [caption id="attachment_8672" align="alignnone" width="2048"] Direktur Boning Marine Indonesia BoYan Xie (kanan) berfoto bersama Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto (kiri) pada pertemuan Delegasi Boning Marine Indonesia dengan INSA.[/caption] abc
Event, Headlines, Ulasan Berita

Carmelita Dorong Perempuan Masuk ke Sektor Maritim

SINGAPURA-Ketua Umum Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto menjadi tamu kehormatan pada acara Pameran dan Konfrensi Asia Pacific Maritime (APM) ke-15. Acara yang berlangsung di Marina Bay Sands, Singapura, digelar selama tiga hari dari 14 hingga 16 Maret 2018 dan dihadiri oleh seluruh pelaku kemaritiman dan stakeholder kemaritiman dunia. Dalam kesempatan ini, Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto mendapat kehormatan menjadi penggunting pita sebagai tanda dibukanya secara resmi Pameran dan Konfrensi Asia Pacific Maritime (APM) ke-15. Bersama dengan itu, Carmelita Hartoto medapat kesempatan memberikan pemaparan pada sesi peran perempuan dalam dunia kemaritiman yang dimoderatori oleh KD Adamson. Selain Carmelita terdapat beberapa pembicara lain pada sesi ini, seperti Chief Executive Officer Nordic Flow Control PTE LTD Dorcas Teo, Director & President, Singapore, Asia Legal LLC & Women International Shipping & Trading Association Singapore Magdalena Chew, Regional Head, Human Capital (Subcontinent Region), India, DP World Modal Srivastava, Co-Founder & Senior Legal Counsel, Legal & Compliance, Su Yin Anand. Dalam paparannya, Carmelita mengatakan peran perempuan dalam dunia kemaritiman sudah dimulai sejak lama. “Peran perempuan dalam kancah kemaritiman tidak bisa dipisahkan sejak lama, misalnya adanya Laksamana Malahayati yang dikenal sebagai pahlawan dan memimpin perjuangan perempuan Aceh pada abad ke 16,” katanya di depan konfrensi APM ke-15. Dia menutukan, perbedaan perlakuan gender antara perempuan dan laki-laki pada dunia maritim Indonesia sudah mulai mengikis seiring semakin besarnya peran perempuan di kancah maritim saat ini. Kesempatan berkembang bagi perempuan di dunia maritim sangat terbuka, tergantung dari kompetensi individu masing-masing. “Tidak ada perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan di dunia maritim Indonesia. Mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.” Namun perlu diakui, katanya, jumlah pelaut perempuan yang masih cukup sedikit jika dibandingkan pelaut laki-laki. Per 9 Maret 2018, jumlah pelaut perempuan mencapai 10,320 orang dari total jumlah pelaut yang ada yakni 899,768 orang. Kendati begitu, katanya, peran perempuan dalam industri maritim Indonesia telah memasuki banyak bidang. Hal ini bisa dilihat dari beberapa jabatan strategis yang telah dipegang perempuan di dunia kemaritiman Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Peran perempuan itu misalnya, menjadi pelaku usaha pelayaran, menjadi pucuk pimpinan manajemen perusahaan pelayaran, pejabat di kementerian terkait kemaritiman, pakar hukum maritim dan konsultan hukum maritim. Bagi masyarakat Indonesia, perempuan yang bekerja di sektor maritim bukan hal asing. Selain dirinya, Menteri Kelautan dan Perikanan pada pemerintahan saat ini adalah Susi Pudjiastuti yang sangat dihargai atas prestasi dan kinerjanya selama ini. “Peran perempuan dan laki-laki di dunia maritim Indonesia sudah menuju arah positif dalam kesamaan pemberian hak dan kewajiban, kendati peran perempuan masih harus terus didorong.” Menurutnya, pemberdayaan perempuan pada sektor maritim bukan ditujukan menjadi pesaing bagi laki-laki, melainkan bersinergi antar keduanya. “Karena dalam menjawab tantangan dan menangkap peluang masa depan di bidang maritim membutuhkan kolaborasi gender.” Menteri Transportasi Singapura Lam Pin Min juga mengapresiasi peran dan keikutsertaan INSA dalam Pameran dan Konfrensi Asia Pacific Maritime (APM) ke-15 ini. Dirinya juga berharap, adanya peningkatan kerja sama sektor maritim antara Indonesia dan Singapura pada masa yang akan datang.abc
Event, Galeri, Headlines, Ulasan Berita

PARTISIPASI INSA DI ASIA PACIFIC MARITIME KE-15

[caption id="attachment_8654" align="alignnone" width="1280"] Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto menggunting pita tanda dibukanya secara resmi Pameran dan Konferensi Asia Pacific Maritime ke-15 di Marina Bay Sands, Singapura. Tampak di belakang Senior Minister of State for Transport and Health Singapura, Lam Pin Min (kanan) memukul gong.[/caption]   [caption id="attachment_8655" align="alignnone" width="1280"] Senior Minister of State for Transport and Health Singapura, Lam Pin Min (kanan) mencicipi Lumpia di booth INSA (Indonesian National Shipowners' Association) dalam Konferensi dan Eksebisi Asia Pacific Maritime ke-15 di Marina Bay Sands, Singapura. Ketua Umum INSA, Carmelita Hartoto (kiri) menjadi salah satu pembicara dalam konferensi ini.[/caption]   [caption id="attachment_8656" align="alignnone" width="1280"] Senior Minister of State for Transport and Health Singapura, Lam Pin Min (kanan) berfoto bersama seluruh jajaran Pengurus INSA di booth INSA (Indonesian National Shipowners' Association) dalam Pameran dan Konferensi Asia Pacific Maritime ke-15 di Marina Bay Sands, Singapura.[/caption]abc
Galeri

NPCT1 CAPAI 1 JUTA TEUS

Jakarta, Senin (12/3/2018) di Pelabuhan Tanjung Priok, Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto menghadiri acara pencapaian 1 Juta TEUS oleh NPCT1 bersama Direktur Perkapalan dan Kepelautan Junaidi, Kepala Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok Arif Toha, jajaran Direksi PT Pelindo II dan asosiasi di sektor transportasi laut.    abc
Galeri

INSA Berbagi

Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia atau Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) memberikan santunan kepada 1.000 anak yatim sebagai wujud syukur eksistensi setengah abad INSA di kancah industri pelayaran nasional. Acara yang bertemakan INSA Berbagi digelar di Terminal Penumpang Nusantara Pura 1 dan 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Acara tersebut dihadiri oleh para pengurus DPP INSA, DPC INSA, dan perusahaan pelayaran nasional anggota INSA. abc
Ulasan Berita

IPC BANGGA UPAYA INSA KENALKAN BUDAYA MARITIM KEPADA 1.000 ANAK YATIM

PT Pelabuhan Indonesia II atau IPC mengapresiasi langkah Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) mengenalkan dan menanamkan budaya maritim kepada lebih 1.000 anak yatim. Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha IPC Saptono Irianto mengatakan INSA telah menunjukkan perannya seraca nyata di kancah kemaritiman Indonesia. Komitmen INSA dalam mengembangkan kemaritiman nasional terlihat dalam mengenalkan dan menanamkan kemaritiman kepada generasi penerus bangsa. “Saya sangat bangga kepada INSA. Karena dari acara ini, menunjukkan INSA peduli kepada generasi penerus untuk mewujudkan tercapainya cita-cita maritim Indonesia berjaya,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara INSA Berbagi di Terminal Penumpang Nusantara Pura, Pelabuhan Tanjung Priok, Minggu (11/3/2018). Dalam acara ini, DPP INSA menyantuni 1.000 anak yatim sebagai wujud syukur eksistensi 50 tahun INSA di kancah industri pelayaran nasional. INSA juga mengajak 1.000 anak yatim melakukan fieldtrip ke daerah pelabuhan untuk memberikan wawasan dan menanamkan budaya maritim sejak dini. Fieldtrip ini dilakukan di pelabuhan lantaran pelabuhan dan pelayaran merupakan aspek yang tak terpisahkan dalam kegiatan perniagaan nasional maupun internasional. Pada fieldtrip ini anak-anak berkesempatan melihat rangkaian aktivitas di bidang pelayaran yang dimulai dari pelabuhan seperti pelayanan kapal (labuh, pandu, tunda, dan tambat), handling bongkar muat (peti kemas, curah cair, curah kering, general cargo, roro), embarkasi dan debarkasi penumpang, jasa penumpukan, dan bunkering. Saptono mengatakan, acara ini juga sekaligus membuktikan INSA sebagai wadah pelaku usaha pelayaran tetap dekat dengan seluruh lapisan masyarakat. Pengenalan dan penanaman budaya maritim merupakan langkah positif, mengingat Indonesia sebagai negara maritim yang seharusnya terus mendapat dukungan. Terlebih, kata Saptono, Presiden Jokowi telah mencanangkan Indonesia sebagai poros mariti dunia. “Ini bisa tercapai, jika generasi kita sudah mulai mengenal dan menekuni (kemaritiman Indonesia) itu. Dan kami melihat upaya-upaya INSA untuk bisa mewujudkan sudah terihat secara realistis.” Saptono pun berharap, secara konsisten INSA mendukung program pemerintah, sehingga cita-cita menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dapat tercapai dalam waktu yang lebih cepat dari yang dicanangkan. “Kami atas nama PT Pelabuhan Indonesia II mengucapkan selamat ulang tahun INSA ke 50 tahun, dan kami harap INSA tetap jaya, lebih maju dan berbakti bagi nusa dan bangsa.”(*)abc
Event, Headlines, Keluarga INSA, Ulasan Berita

INSA BERBAGI BERSAMA 1.000 ANAK YATIM

Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia atau Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) memberikan santunan kepada 1.000 anak yatim sebagai wujud syukur eksistensi setengah abad INSA di kancah industri pelayaran nasional. Acara yang bertemakan INSA Berbagi digelar di Terminal Penumpang Nusantara Pura 1 dan 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Acara tersebut dihadiri oleh para pengurus DPP INSA, DPC INSA, dan perusahaan pelayaran nasional anggota INSA. INSA juga mengajak 1.000 anak yatim melakukan fieldtrip ke daerah pelabuhan untuk memberikan wawasan dan menanamkan budaya maritim sejak dini. Fieldtrip ini dilakukan di pelabuhan lantaran pelabuhan dan pelayaran merupakan aspek yang tak terpisahkan dalam kegiatan perniagaan nasional maupun internasional. Pada fieldtrip ini anak-anak berkesempatan melihat rangkaian aktivitas di bidang pelayaran yang dimulai dari pelabuhan seperti pelayanan kapal (labuh, pandu, tunda, dan tambat), handling bongkar muat (peti kemas, curah cair, curah kering, general cargo, roro), embarkasi dan debarkasi penumpang, jasa penumpukan, dan bunkering. Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto mengatakan pengenalan wawasan dan penanaman budaya maritim sejak dini merupakan salah satu cara mensukseskan program pemerintah mengedepankan sektor maritim sebagai masa depan bangsa. “Melalui acara ini kami berbagi dengan 1.000 anak yatim sekaligus mengenalkan wawasan dan budaya maritim kepada anak-anak,” kata Carmelita di acara INSA Berbagi bersama 1.000 anak yatim di Terminal Penumpang Nusantara Pura 1 dan 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Salah satu tujuan dari acara ini adalah untuk mendorong anak-anak bercita-cita bekerja di industri maritim dan kelautan terutama yang berkaitan dengan INSA, yaitu menjadi pelaut yang berkualitas atau menjadi wirausaha di bidang pelayaran. Selama 50 tahun INSA berdiri telah banyak memberikan sumbang pikir dan gagasan dalam mendorong sektor pelayaran nasional. Dalam perjalanannya para anggota INSA terus berkontribusi bagi perekonomian nasional. Asas cabotage yang tertuang dalam Inpres No. 05/2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional Angkutan Laut Dalam Negeri dan dipertegas dengan Undang-undang No. 17/2008 tentang Pelayaran telah mendorong investasi yang sangat signifikan dalam pengadaan kapal. Sejak asas cabotage diterapkan pada tahun 2005, jumlah kapal telah mencapai 24.046 unit pada tahun 2016. Jumlah itu dibarengi dengan pertumbuhan perusahaan pelayaran nasional yang mencapai 3.363 perusahaan. Dengan kekuatan armada yang cukup besar, pelayaran nasional mampu melayani distrbusi kargo barang domestik ke seluruh Indonesia. Pada 2016, jumlah kargo domestik mencapai 621 juta ton dan seluruhnya dilayani oleh pelayaran nasional. INSA sebagai wadah pelaku usaha pelayaran nasional ikut terlibat aktif dalam program tol laut. INSA ikut sumbang gagasan yang relevan mengikuti perkembangan industri kemaritiman dan pelayaran, ketersedian muatan dan infrastruktur penunjang. Para pelaku usaha pelayaran swasta nasional juga ikut mengambil peran dengan mengikuti tender tol laut sejak 2017. Begitu juga pada tol laut di tahun ini. INSA juga ikut terlibat dalam program beyond cabotage sejak 2012. Sekretaris Umum DPP INSA Budhi Halim mengatakan dalam mengimplementasi program beyond cabotage, pemerintah dan pelaku usaha dapat mencontoh kesuksesan penerapan asas cabotage. “Kebijakan asas cabotage dapat menjadi tolok ukur untuk implementasi program beyond cabotage dalam rangka memberdayakan angkutan laut Indonesia,” ujar Budhi Halim. Saat ini, program beyond cabotage mendapat angin segar setelah pemerintah merilis Paket Kebijakan Ekonomi XV yang menyasar logistik nasional pada Juni tahun lalu. Salah satu fokus isi Paket Kebijakan Ekonomi XV salah satunya pemberian kesempatan peningkatan peran dan skala usaha dengan kebijakan yang memberikan peluang bisnis untuk angkutan dan asuransi nasional dalam melayani angkutan ekspor impor, dan pelaku usaha mengapreasiasi langkah pemerintah tersebut. Sebagai tindaklanjut dari Paket Kebijakan Ekonomi XV, pada akhir tahun lalu Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 82 Tahun 2017 tentang Ketentuan Penggunaan Angkutan Laut dan Asuransi Nasional untuk Ekspor dan Impor Barang Tertentu. Peraturan ini mewajibkan kegiatan ekspor Crude Palm Oil (CPO), batubara dan beras menggunakan angkutan laut yang penguasaannya di bawah perusahaan pelayaran nasional. “Penggunaan kapal nasional pada aktivitas ekspor impor diharapkan akan menekan defisit transaksi perdagangan ekspor impor, terutama untuk angkutan jasa dan asuransi angkutan laut,” tuturnya. Pelayaran nasional harus memiliki daya saing yang tinggi, baik dalam hal freight maupun service, maka seiring dengan implementasi PM No. 82/2017 sangat mengharapkan dukungan penuh pemerintah, dengan memberikan kebijakan yang bersifat equal treatment bagi pelayaran nasional, seperti yang diterapkan negara lain terhadap industri pelayaran mereka. Sehubungan dengan hal ini Kementerian Perdagangan telah memfasilitasi para pelaku usaha terkait, misalnya INSA, APBI dan GAPKI, untuk bersama-sama menyusun roadmap untuk memetakan berapa besar volume cargo (batubara dan CPO ) yang akan diangkut setiap bulannya, negara tujuan ekspor, jenis, ukuran dan jumlah kapal yang harus disiapkan. Pelayaran nasional berkomitmen akan mengisi ketersediaan kapal secara bertahap baik secara kuantitas maupun kualitas sesuai dengan kebutuhan pemilik barang agar kegiatan ekspor tidak terganggu.(*) abc
insa logo INSA - Indonesian National Shipowners' Association
Jalan Taman Tanah Abang III No.10 RT.3/RW.3 Petojo Selatan
Jakarta
DKI Jakarta 10160
Phone: (021) 3850993 Maps. Exterior insa info 0
Arahan menuju lokasi INSA