READING

DPP INSA SOROTI TANTANGAN DAN PELUANG PELAYARAN LN...

DPP INSA SOROTI TANTANGAN DAN PELUANG PELAYARAN LNG PADA 11TH INDOGAS 2025

Jakarta – DPP INSA yang diwakili Ketua Kelompok Kerja Renewable Energy DPP INSA, Ganny Zheng, hadir sebagai narasumber pada panel diskusi dengan tema “LNG Shipping in Indonesia: A Path to Energy Security” di the 11th IndoGas 2025, Jakarta (25/6/2025). Para pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan investor memberikan wawasan untuk memperkuat sektor pelayaran LNG Indonesia.

Ganny Zheng menyampaikan bahwa pembangunan armada kapal LNG yang dimiliki oleh Indonesia akan menjadi salah satu langkah strategis dalam mencapai kemandirian energi yang berkelanjutan. Salah satu langkah penting dalam mencapai hal ini adalah melalui pengembangan teknologi dan infrastruktur yang mendukung transportasi LNG yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Ganny Zheng menjelaskan bahwa upaya dekarbonisasi di sektor maritim menjadi semakin mendesak seiring dengan target ambisius International Maritime Organization (IMO) yang menargetkan nol emisi gas rumah kaca (GRK) dari industri pelayaran internasional pada tahun 2050. Untuk mencapai target tersebut, IMO telah menetapkan serangkaian strategi dan regulasi, termasuk implementasi indikator intensitas karbon (Carbon Intensity Indicator/CII) dan penyesuaian dengan kebijakan Fuel-EU Maritime.

“INSA mendorong roadmap nasional yang selaras dengan strategi IMO. Ini termasuk dukungan terhadap riset dan inovasi teknologi kapal ramah lingkungan, serta peningkatan efisiensi energi kapal yang sedang dan akan beroperasi,” ujar Ganny.

Terkait opsi bahan bakar masa depan, Ganny menyoroti bahwa LNG (termasuk Bio-LNG) dan biodiesel merupakan dua opsi utama. Berdasarkan perbandingan intensitas emisi, biodiesel campuran B30 hingga B40 menunjukkan pengurangan emisi hingga 28%, sementara metanol dapat menurunkan emisi hingga lebih dari 50% dibandingkan solar murni. LNG, terutama Bio-LNG, memiliki potensi pengurangan emisi hingga 53,2%.

“Namun, tantangannya bukan hanya pada efisiensi emisi, tetapi juga kesiapan infrastruktur, biaya penyimpanan, serta pasokan bahan bakar yang berkelanjutan tanpa mengorbankan kebutuhan pangan atau menyebabkan deforestasi,” jelas Ganny. Dalam konteks ketahanan energi nasional, INSA juga menekankan perlunya sinergi lintas sektor untuk memperkuat penggunaan energi transisi seperti LNG dan biodiesel, serta mendorong teknologi penangkap dan penyimpanan karbon (CCS/CCU) sebagai solusi jangka panjang menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.


COMMENTS ARE OFF THIS POST