Author: admin
Domestic, Ulasan Berita

INSA BERSAMA STAKEHOLDER BAHAS PERSIAPAN SULFUR KONTEN 0,5%

Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (DPP INSA) bersama Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Kepelautan dan Perkapalan menggelar rapat koordinasi kesiapan menjalankan ketentuan International Maritime Organization (IMO) mengenai kewajiban kapal menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bersulfur rendah mulai 1 Januari 2020.   Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Umum DPP INSA Budhi Halim mengatakan, kapal-kapal Indonesia, baik yang berlayar di perairan internasional maupun dalam negeri, akan menggunakan bahan bakar dengan kandungan sulfur maksimal 0,5 persen mass by mass(m/m), sesuai Marine Pollution (Marpol) Convention Annex VI Regulasi 14.   Bagi kapal yang masih menggunakan BBM dengan sulfur di atas 0.5% m/m, lanjut Budhi, wajib memasang exhaust gas cleaning system atau scrubber. Ada tiga jenis scrubber yang diperbolehkan dipasang di kapal, yakni open loop, close loop, dan hybrid.   "Indonesia sudah meratifikasi dan konsisten dalam menerapkan aturan-aturan yang ditetapkan konvensi internasional. Itu berlaku untuk seluruh kapal yang berlayar di perairan domestik maupun internasional," kata Budhi seperti dikutip dari bisnis.com.   Budhi memprediksikan akan ada lonjakan harga marine fuel oil (MFO) bersulfur 0,5% m/m lantaran adanya peningkatan permintaan dan keterbatasan pasokan. Dikatakan Budhi, berdasarkan informasi dari Pertamina, harga bahan bakar bersulfur rendah bisa lebih mahal 15 persen-20 persen dari bahan bakar bersulfur tinggi.   Para pemilik kapal sedang mempertimbangkan apakah kenaikan harga bahan bakar ini setara dengan investasi pembelian scrubber yang mencapai US$1,5 juta atau sekitar Rp20 miliar. Pasokan MFO bersulfur rendah juga menjadi tantangan mengingat produksi dalam negeri hanya 380.000 kl per tahun.   Sekretaris I DPP INSA Capt. Otto K.M. Caloh mengusulkan agar produksi MFO bersulfur rendah ditingkatkan dua kali lipat. Hal ini untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dari kapal-kapal yang berlayar di perairan domestik.   Pada pertemuan tersebut, dibicarakan juga untuk mempertimbangkan opsi impor guna memenuhi kebutuhan MFO bersulfur rendah dalam negeri.(*)abc
Keluarga INSA, Ulasan Berita

Pengukuhan DPC INSA BALI

Di awal tahun 2019, DPP Indonesian National Shipowners Association (INSA) melebarkan sayap organisasinya dengan terbentuknya Dewan Pengurus Cabang (DPC) INSA Bali yang diketuai Dadang Rukmana. Kehadiran INSA di Bali diharapkan dapat ikut andil dalam pengembangan kepariwisataan Bali. Bendahara Umum DPP INSA Nova Y. Mugijanto mengatakan, terbentuknya dan pengukuhan pengurus DPC INSA Bali diharapkan akan memberikan energi baru bagi INSA demi kelangsungan industri pelayaran nasional, khususnya di Provinsi Bali. Nova menyebutkan Bali yang memiliki corak ekonomi yang condong pada pengembangan ekonomi pariwisata perlu dicermati pertumbuhannya. Kontribusi sektor pariwisata adalah yang terbesar dalam struktur perumbuhan ekonomi Bali dari tahun ke tahun. Pada tiga tahun terakhir, lanjut Nova, jumlah wisatawan mancanegara secara nasional menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Di 2018, jumlah wisman yang mengunjungi Indonesia mencapai lebih dari 15 juta wisman, sedangkan tahun ini  jumlah wisman ditargetkan mencapai 18 juta orang. “Dari jumlah itu, 40 persennya melakukan kunjungan ke Bali,” kata Nova saat acara pengukuhan dan pelantikan DPC INSA Bali. Adapun, dikatakan Nova, jumlah wisman dengan kapal pesiar di Indonesia di tahun ini juga diprediksi akan tumbuh 9,7 persen menjadi 387 ribu lebih wisman, dengan prediksi kedatangan kapal mencapai 593 kapal selama 2019 ini. “Tentunya, ini menjadi peluang sekaligus tantangan pelayaran nasional kita yang berada di Bali dalam mengakselerasi pengembangan pariwisata di daerah Bali, yang juga dapat memberikan benefit bagi pelayaran nasional di Bali,” tuturnya. DPC INSA Bali diharapkan dapat menjalankan roda organisasi dengan baik dengan menjalin komunikasi dan koordinasi antara pengurus daerah dan pusat INSA. Sekaligus menjalin hubungan baik dengan para pemangku kepentingan di industri pelayaran baik di tingkat daerah, maupun nasional. “Saya mengajak kepada seluruh pengurus dan anggota DPC INSA Bali untuk lebih berperan aktif dan kompak dalam berorganisasi, dengan mengikuti perkembangan yang terjadi di lingkungan kerja,” pungkasnya.(*)abc
Event, Headlines, Ulasan Berita

INSA GOLF GATHERING

Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (DPP INSA) pada Sabtu (16/3/2019) menggelar Golf Gathering for International Containerized Shipping Company yang diselenggarakan di Sentul Highlands Golf Course, Bogor. Golf Gathering for International Containerized Shipping Company merupakan agenda DPP INSA dalam rangka mempererat silaturahmi DPP INSA dengan para anggota kontainer baik nasional maupun internasional, DPC INSA, Asosiasi Pengelola Terminal Petikemas Indonesia (APTPI) dan stakholder terkait lainnya. Sebanyak 41 peserta mengikuti INSA Golf Gathering ini. Pada pukul 12.30 WIB initial tee off dilakukan oleh Sekretaris Umum DPP INSA Budhi Halim. Acara tersebut juga diramaikan oleh Dewan Penasehat DPP INSA H. Soenarto, Sekretaris I DPP INSA Capt. Otto KM Caloh, Ketua Bidang Angkutan Gas Sutiyarso, dan Ketua DPC INSA Surabaya Stenven Lesawengan. Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto mengatakan, melalui gathering ini, diharapkan anggota INSA khususnya kontainer luar negeri dapat lebih aktif untuk sumbang saran di rumah INSA. "Tujuannya, agar kita semua dapat memetakan masalah dan cari solusi secara rutin dari waktu ke waktu karena perubahan begitu cepatnya saat ini,” kata Carmelita di Sentul, Sabtu (16/3/2019). Selain mempererat silaturahmi, Carmelita berharap momen baik ini menjadi ajang saling bertukar pikiran dan gagasan dalam menghadapi segala tantangan dan persoalan hambatan. "Kedepan, diharapkan INSA dapat hadir dalam kegiatan Main Line Operator (MLO) dan sinergi antara pemilik kapal, pemilik kargo, pengelola terminal dan pemerintah dapat berjalan baik dan lancar," pungkasnya.(*) [caption id="attachment_9064" align="aligncenter" width="2400"] Sekretaris Umum DPP INSA Budhi Halim melakukan initial tee off INSA Golf Gathering[/caption]  abc
Galeri, Headlines

PARTISIPASI INSA DI DIALOG STRATEGIS REVOLUSI 4.0 INDUSTRI PELABUHAN DAN PELAYARAN

[caption id="attachment_9041" align="aligncenter" width="2400"] Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto menjadi salah satu narasumber di acara Dialog Strategis Revolusi 4.0 Industri Pelabuhan dan Pelayaran, yang diselenggarakan Ocean Week di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (6/3/2019).[/caption] [caption id="attachment_9043" align="aligncenter" width="2400"] Ketua DPC INSA Surabaya Stenven Lesawengan (kiri pertama), Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto (kedua kiri), Dewan Penasehat INSA H. Soenarto (kedua kanan), dan Wakil Ketua Umum INSA III Darmansyah Tanamas (kanan pertama) menghadiri acara Dialog Strategis Revolusi 4.0 Industri Pelabuhan dan Pelayaran yang diselenggarakan Ocean Week di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (6/3/2019).[/caption] [caption id="attachment_9042" align="aligncenter" width="2400"] Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto (kedua kanan) saat menerima cinderamata dari panitia penyelenggara Dialog Strategis Revolusi 4.0 Industri Pelabuhan dan Pelayaran yang diselenggarakan Ocean Week di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (6/3/2019).[/caption]abc
Headlines, Regulasi, Ulasan Berita

PM 121 KEMBALIKAN MEKANISME HITUNGAN BIAYA JASA KEPELABUHANAN NORMAL DAN WAJAR

DPP Indonesian National Shipowners' Association (INSA) menilai penerbitan PM 121 akan mengembalikan mekanisme penghitungan biaya jasa kepelabuhanan pada hitungan yang normal dan wajar. Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto mengatakan PM No 121 tahun 2018 merupakan revisi atas PM No 72 tahun 2017. Proses penyusunan PM No 121 juga telah melibatkan pelaku usaha pelayaran yang menjadi pihak pengguna jasa dan operator pelabuhan dari Pelindo I hingga IV. "PM 121 tahun 2018 merupakan revisi dari aturan PM 72 tahun 2017, yang akan membuat mekanisme hitungan akan kembali wajar dan normal," kata Carmelita. Seperti diketahui, beban biaya kepelabuhanan yang tertuang dalam PM No 72 dinilai tidak wajar dan memberatkan operator pelayaran. Salah satunya, terkait dengan mekanisme penghitungan tarif penggunaan kapal tunda mengakibatkan kenaikan biaya kepelabuhanan, karena penghitungannya dikalikan jumlah kapal tunda. Kementerian Perhubungan, pada Desember lalu telah menerbitkan PM No 121 tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan No 72 tahun 2017 tentang Jenis, Struktur Golongan dan Mekanisme Penetapan Tarif Jasa Kepelabuhanan. Melalui PM No 121 diharapkan biaya kepelabuhanan kembali wajar dan normal. Dalam Pasal 9 pada PM No 121 tahun 2018 diatur antara lain tentang mekanisme penghitungan biaya jasa labuh kapal yang dihitung berdasarkan ukuran kapal dalam GT dengan satuan GT per kunjungan kapal, biaya jasa pemanduan kapal yang dihitung berdasarkan ukuran kapal yang dipandu dalam GT dengan satuan GT pergerakan dikaitkan dengan jarak pemanduan dan tingkat resiko dengan rumusan: ((GT x tarif variabel) + tarif tetap) x gerakan. Lain itu, mekanisme penghitungan biaya jasa penundaan kapal yang dihitung berdasarkan ukuran kapal yang ditunda dalam GT dengan satuan GT per jam, dengan rumusan ((GT x tarif variabel) + tarif tetap) x jam. Tarif jasa tambat kapal, dihitung berdasarkan ukuran kapal dalam GT dengan satuan GT per etmal. Ada juga mekanisme penghitungan biaya jasa penggunaan alur pelayaran yang diusahakan. Penghitungan untuk kapal kosong berdasarkan ukuran kapal dalam GT dengan satuan GT persekali lewat, sedangkan kapal bermuatan dihitung berdasarkan ukuran kapal dalam GT dengan satuan GT persekali lewat atau berdasarkan muatan kapal dengan satuan ton/m3/box per kunjungan. Pada bagian lain, PM No 121 tahun 2018 aturan ini juga menetapkan bahwa badan usaha pelabuhan (BUP) dalam menetapkan tarif jasa, wajib melibatkan persetujuan assosiasi terkait, termasuk di dalamnya juga INSA. Karena untuk jasa petikemas dan muatan berbahaya, pihak pelayaran harus membayar terlebih dahulu.(*)abc
Keluarga INSA, Ulasan Berita

DPP INSA LANTIK KEPENGURUSAN DPC INSA BANTEN 2018-2022

Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (DPP INSA), Nova Y. Mugijanto mewakili Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto resmi melantik kepengurusan DPC INSA Banten periode 2018-2022 yang diketuai H. Sri Tentrem Agus Sutanto, Rabu (16/1/2019) di Hotel The Royale Krakatau, Cilegon, Banten. Turut hadir Walikota Cilegon H. Edi Ariyadi pada acara pelantikan DPC INSA Banten. Nova Y. Mugijanto mengatakan, pada tahun ini industri pelayaran nasional diprediksi masih mengalami banyak tantangan. Namun, industri pelayaran dituntut untuk tetap optimisitis menatap 2019 dan tahun-tahun berikutnya, dengan tetap menyiapkan langkah-langkah bisnis yang matang. "Tantangan ini seharusnya akan membuat kita semakin tangguh," kata Nova. Nova menuturkan INSA sebagai wadah satu-satunya pelaku usaha pelayaran nasional yang diakui pemerintah, sekaligus partner pemerintah dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan industri pelayaran nasional, secara konsisten terus melakukan perjuangan-perjuangan dalam pemberdayaan pelayaran nasional. Pemimpin terpilih DPC INSA Banten ini, kata Nova, diharapkan akan memberikan penyegaran dan mampu mengayuh roda organisasi dua kali lebih cepat. Karena kecepatan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan merupakan faktor penting dalam proses kepemimpinan.\ Nova mengatakan, INSA yang merupakan rumah bagi seluruh pelaku usaha pelayaran nasional diharapkan semakin peka dan proaktif dalam mendengar dinamika dan problematika para anggotanya. Nova menyebutkan di tengah tantangan dunia pelayaran nasional yang kian kompleks, INSA berharap komunikasi dan koordinasi antara pengurus daerah dan pusat juga dapat terus ditingkatkan. Sekaligus menjalin hubungan baik dengan para pemangku kepentingan di industri pelayaran baik di tingkat daerah, maupun nasional. "Saya mengajak kepada seluruh pengurus dan anggota DPC INSA Banten untuk lebih berperan aktif dan kompak dalam berorganisasi, dengan mengikuti perkembangan yang terjadi di lingkungan kerja," tuturnya. Dengan begitu, sambung Nova, DPC INSA Banten akan memberikan dampak yang lebih besar bagi industri pelayaran di daerah dan masyarakat Banten pada khususnya, dan umumnya berdampak positif terhadap pembangunan ekonomi nasional di masa mendatang. "Kepengurusan DPC INSA Banten yang kembali dinahkodai Bapak Agus Sutanto diharapkan dapat menjalankan amanat anggota dengan sebaik-baiknya," pungkasnya.(*) Susunan Pengurus DPC INSA Banten periode 2018-2022:
  1. Ketua: H. Sri Tentrem Agus Sutanto
  2. Bidang Organisasi & Kepelabuhan :TB. Tusabih
  3. Bidang Tanker & Bunker: Agus Dahlan, SE
  4. Bidang Bulk & General Cargo: H. Handono Susetyo
  5. Bidang Tug Boat & Tongkang: Tri Susanto
  6. Sekretaris: Bayu Laksono, S. SiT
  7. Bendahara: Roliyawan Supriadi
abc
Headlines, Ulasan Berita

PELAYARAN NASIONAL BELUM TUMBUH CEMERLANG

Pertumbuhan industri pelayaran nasional dinilai belum terlalu cemerlang di 2019, karena masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Pelayaran nasional masih dihadapkan sejumlah tantangan, terutama dalam  kebijakan moneter yang masih di atas 12 persen, sedangkan margin profit pelayaran nasional masih satu digit. Di sisi fiskal, pelayaran nasional juga masih dibebani sejumlah pajak yang antara lain seperti Pajak PPN atas pembelian BBM pelayaran dalam negeri. Carmelita Hartoto, Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners' Association (INSA) mengatakan, pada dasarnya pelayaran nasional hanya membutuhkan equal treatment atau perlakuan setara seperti negara lain memberlakukan kebijakan kepada industri pelayaran mereka. Jika kebijakan sudah mengarah pada perlakuan setara ini, dia optimistis pelayaran akan kian berdaya saing dan mampu mencatatkan kinerja positif, yang pada akhirnya memberikan kontribusi lebih besar bagi ekonomi nasional. "Pelayaran ini motor bagi industri lainnya, seperti galangan, industri komponen kapal, asuransi dan pendidikan SDM. Jika pelayaran tumbuh, maka industri terkait lainnya akan ikut tumbuh," kata Carmelita. Tantangan lainnya terkait efisiensi biaya kepelabuhanan dalam menekan biaya logistik, dan juga pendataan jumlah, ukuran dan jenis kapal yang dilakukan secara berkala oleh pemerintah. Witono Soeprapto, Wakil Ketua I DPP INSA mengatakan pada tahun ini  pelayaran nasional secara umum tumbuh tipis. Khusus angkutan general cargo masih dihadapkan pada pertumbuhan yang kurang meyakinkan. Sektor general cargo diprediksi akan semakin terpuruk mengingat fasilitas kepelabuhanan selalu memprioritaskan kapal kontainer, sehingga menghadapi tantangan potensi terjadinya kongesti. Sedangkan komoditas untuk general cargo sudah banyak berkurang, dan lebih banyak muatan-muatan curah bahan baku. "Dari dulu, tantangan sektor ini terkait kekhawatiran terjadinya kongesti pelabuhan karena pelabuhan memprioritaskan kontainer. Lain itu, muatan kapal ini juga terus berkurang," kata Witono. Adapun sektor kontainer domestik akan sangat dipengaruhi pada kinerja ekonomi Indonesia. Dari kuartal I hingga III 2018, ekonomi nasional tumbuh berkisar 5 persenan. Pada RAPBN 2019, ekonomi nasional juga dipatok tumbuh 5,3 persen. Dengan melihat itu, sektor kontainer diprediksi mencatatkan pertumbuhan yang tidak jauh berbeda. Baik sektor kontainer dan general cargo juga mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi, seiring dengan supply dan demand muatan pada momen-momen tertentu. Di hari-hari besar keagamaan dan akhir tahun jumlah muatan akan ikut naik. Meski angkutan ekspor impor masih didominasi pelayaran asing, sektor kontainer pelayaran nasional optimistis akan mencatatkan kinerja lebih baik pada tahun depan. Namun peningkatan jumlah muatan tidak terjadi pada kegiatan impor, kecuali untuk komoditas bahan baku. “Salah satu tantangan pelayaran kontainer saat ini terkait pemberlakuan safety container serfitikat, yang seharusnya merujuk pada best common international practice. Dan hingga kini, sektor kontainer juga tengah mempersiapkan diri dalam era digital.” Catatan sektor offshore di 2018 hanya  mengalami  pertumbuhan tipis, meski utilisasinya sudah 50 persen. Kondisi ini  disebabkan oil company masih melakukan efisiensi di tengah tantangan fluktuasi harga minyak dunia. Dalam RAPBN 2019, harga minyak dipatok berkisar USD 70/ barel dengan produksi minyak 750.000 bph. Tantangan lain yang dihadapi sektor offshore terkait charter rate yang masih rendah, dan  persaingan usaha yang ketat. Nova Y Mugijanto, Bendahara Umum INSA yang juga pelaku usaha pelayaran offshore mengatakan pertumbuhan sektor offshore diprediksi juga belum tumbuh signifikan di 2019. Pertumbuhannya diprediksi masih berkisar 5-10 persen, karena PT Pertamina sebagai pemain utama masih dihadapkan sejumlah tantangan, yang salah satunya terkait tugas Pertamina sebagai BUMN untuk memberikan BBM satu harga. “Sektor offshore berharap, aktivitas eksploitasi dan eksplorasi dapat terus meningkat di tahun depan, yang secara paralel akan mengerek kinerja sektor offshore di tahun depan,” kata Nova. Lain itu, diharapkan rencana tender perusahaan minyak juga memuat terkait kebutuhan armada baik dari jenis dan ukuran kapalnya. Di sektor kapal tanker domestik masih mencatatkan kinerja positif di 2018. Pada tahun 2018 terjadi lonjakan muatan FAME terkait kebijakan B20 yang cukup signifikan, sehingga menyebabkan perubahan arus muatan dan terjadi kelangkaan sementara untuk tipe kapal ukuran 2.000-5.000 DWT. Hal ini disamping ketersediaan kapal tanker yang terbatas juga disebabkan oleh pola operasi distribusi FAME yang masih belum optimal, sehingga penggunaan ruang muat kapal tidak efisien serta waktu menunggu bongkar yang relatif lama. Nick Djatnika, Ketua Bidang Cair DPP INSA mengatakan pertumbuhan  kapal berbendera Indonesia di 2018 capai 152 unit atau naik 1,68 persen ketimbang tahun sebelumnya. “Dari jumlah itu, 19 unit merupakan kapal tanker. Pertumbuhan kapal tanker sendiri pada 2018 mencapai 3.42%,” kata Nick. Secara lebih rinci, jumlah armada kapal tanker kecil (ukuran 10.000 DWT) pada tahun 2018 bertambah sebanyak 7 unit sedangkan  untuk kapal tanker besar bertambah sebanyak 12 unit. Pelaku usaha tanker nasional tetap mengkhawatirkan terjadinya gejolak pasar domestik, sebagai dampak dari pengaruh kondisi sektor pelayaran tanker global yang mencatatkan kinerja negatif tahun ini. Pendapatan untuk sector VLCC menyusut 61%, Suezmax 42%, Aframax 23%, Medium Range 29%. “Hal ini sedikit banyak berpengaruh terhadap kondisi pasaran domestik karena untuk kapal-kapal ukuran tersebut, pasarnya saling berpengaruh,” kata Nick. Di tahun depan, sektor tanker nasional diprediksi akan terus mengalami pertumbuhan armada ukuran kecil yang akan menetralisir kelangkaan kapal tanker, terkait perubahan arus muatan dan lonjakan muatan sebagai dampak pemberlakuan kebijakan B20. Adapun sektor kapal tanker ukuran lebih besar, ada dua hal yang akan berpengaruh pada kebijakan pengadaan kapal, yaitu pemberlakuan kewajiban kapal tanker berbendera Indonesia untuk mengangkut ekspor CPO dan kebijakan batasan sulfur pada tahun 2020. Di sektor tongkang dan bulk untuk angkutan batu bara optimistis akan mencatat pertumbuhan positif. Pada tahun 2018,  target volume produksi batu bara sebesar 485 juta ton, utilisasi bulk dan tongkang mencapai 100%. Dengan kenaikan volume produksi batu bara pada 2019 naik 28,3%, maka utilisasi serapan bulk dan tongkang akan menjadi equal atau berada pada level yang menggairahkan bagi pelaku industri bulk dan tongkang. Apalagi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 5%-5,3%. Ali Samad, Ketua Bidang Tug and Barge DPP INSA mengatakan  peningkatan utilisasi bulk dan tongkang belum termasuk material galian C yang tetap tinggi di tahun 2019, sehubungan dengan program pemerintah yang akan menggenjot penyelesaian pembangunan infrastruktur dalam mendukukung kelancaran arus barang dan disparitas harga antar wilayah di semua kawasan Indonesia.(*)abc
Insa Insight, Keluarga INSA, Ulasan Berita

DPC INSA KUALA SAMBOJA RESMI TERBENTUK

Di penghujung akhir tahun 2018, Indonesian National Shipowners Association (INSA) melebarkan sayap organisasinya dengan terbentuknya Dewan Pengurus Cabang (DPC) INSA Kuala Samboja yang diketuai H. Hasanuddin. Kehadiran INSA di Kuala Samboja diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kegiatan perekonomian dan pembangunan daerah serta nasional. Pengukuhan dan Pelantikan DPC INSA Kuala Samboja dilaksanakan pada 18 Desember 2018, di Hotel Zurich Balikpapan, Kalimantan Timur. Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP INSA Zaenal Arifin Hasibuan menghadiri acara tersebut sebagai perwakilan dari DPP INSA. Acara tersebut juga dihadiri Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kuala Samboja Juanidi, Ketua DPC INSA Samarinda Agus Sakhlan, dan Sekretaris DPC INSA Balikpapan Joko Subianto.  Dengan terbentuknya DPC INSA Kuala Samboja, maka jumlah DPC INSA menjadi 41. “Harapan DPP INSA adalah dengan hadirnya INSA di daerah-daerah bisa lebih menggairahkan dunia pelayaran dan menjadi lebih bermanfaat untuk pembangunan nasional,” kata Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP INSA Zaenal Arifin Hasibuan. Zaenal mengatakan, Kuala Samboja yang mempresentasikan Kabupaten Kutai Kartanegara adalah daerah yang sangat luas dengan hasil bumi sangat besar seperti minyak bumi, batubara, palm oil dan beberapa produk lainnya. “Kehadiran INSA diharapkan ikut memajukan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam di daerah tersebut,” tuturnya.(*)abc
Galeri, Insa Insight

FGD PENYUSUNAN KODE ETIK PELAUT

[caption id="attachment_9009" align="aligncenter" width="2400"] Sekretaris Umum DPP INSA Budhi Halim menjadi salah satu narasumber di acara FGD Penyusunan Kode Etik Pelaut yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, di Jakarta, Selasa (18/12/2018). Turut hadir juga Sekretaris I DPP INSA Capt. Otto KM Caloh dan Ketua Bidang Pengembangan SDM/Pelaut Lisda Y. Satria.[/caption] Tak hanya menjadi narasumber, DPP INSA juga tergabung kedalam Tim Penyusunan Kode Etik Pelaut bersama dengan Pemerintah dan Asosiasi Pelaut di Indonesia. INSA sangat mendukung adanya kode etik pelaut guna meningkatkan keselamatan pelayaran termasuk image baik pelaut Indonesia.(*)abc
Galeri, Insa Insight, Ulasan Berita

KOPERASI INSA MANUNGGAL MANDIRI TEKEN MOU DENGAN PONDOK PESANTREN ASSHIDIQQIYAH KARAWANG

[caption id="attachment_9000" align="aligncenter" width="2400"] Ketua Koperasi INSA Manunggal Mandiri Go Darmadi (kiri) dan Direktur Industri Kecil Menengah (IKM) Asshidiqqiyah Karawang M. Irfan Sholeh ASK (kanan), yang disaksikan oleh Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto (tengah) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/Mou) tentang Program Pemberdayaan Ekonomi Pondok Pesantren Melalui Kemitraan, di acara Semarak Festival IKM 2018 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (13/12/2018).[/caption] Penandatanganan Nota Kesepahaman ini juga disaksikan langsung oleh Direktur Jenderal IKM Kementerian Perindsutrian Gati Wibawaningsih. Kerja sama antara Koperasi INSA Manunggal Mandiri dengan Pondok Pesantren Asshidiqqiyah Karawang berupa pengadaan kain pembersih kapal yang dibutuhkan perusahaan pelayaran anggota INSA. Direktorat Jenderal IKM Kementerian Perindustrian telah memfasilitasi mesin atau peralatan konveksi kepada Pondok Pesantren Asshidiqqiyah Karawang guna meningkatkan kapasitas produksi dan kapabilitas Pondok Pesantren Asshidiqqiyah dalam menjalin kemitraan dengan INSA.(*)  abc
insa logo INSA - Indonesian National Shipowners' Association
Jalan Taman Tanah Abang III No.10 RT.3/RW.3 Petojo Selatan
Jakarta
DKI Jakarta 10160
Phone: (021) 3850993 Maps. Exterior insa info 0
Arahan menuju lokasi INSA